nindydiatasawan

Dec 28

Perjuangan Cinta Seorang Istri Sejati (Kisah Nyata)

Buat kalian para Suami, para Istri maupun para calon suami istri, perlu kalian tau bahwa ini adalah satu kisah ‘tragis’ dalam kehidupan berumah-tangga. Saya yakin kalian nanti pasti akan menyesal dan terpaksa membaca ulang dari awal jika melewatkan satu kalimat saja dalam kisah ini dan semoga kita bisa mendapat pelajaran dari kisah ini.

Semuanya berawal dari sebuah rumah mewah di pinggiran desa, yang mana hiduplah disana sepasang suami istri, sebut saja Pak Andre dan Bu Rina.

Pak Andre adalah anak tunggal keturunan orang terpandang di desa itu, sedangkan Bu Rina adalah anak orang biasa. Namun demikian kedua orang tua Pak Andre, sangat menyayangi menantu satu-satunya itu. Karena selain rajin, patuh dan taat beribadah, Bu Rina juga sudah tidak punya saudara dan orang tua lagi. Mereka semua menjadi salah satu korban gempa beberapa tahun yang lalu.

Sekilas orang memandang, mereka adalah pasangan yang sangat harmonis. Para tetangganya pun tahu bagaimana mereka dulu merintis usaha dari kecil untuk mencapai kehidupan mapan seperti sekarang ini. Sayangnya, pasangan itu belum lengkap.

Dalam kurun waktu sepuluh tahun usia pernikahannya, mereka belum juga dikaruniai seorang anakpun. Akibatnya Pak Andre putus asa hingga walau masih sangat cinta, dia berniat untuk menceraikan sang istri, yang dianggapnya tidak mampu memberikan keturunan sebagai penerus generasi. Setelah melalui perdebatan sengit, dengan sangat sedih dan duka yang mendalam, akhirnya Bu Rina pun menyerah pada keputusan suaminya untuk tetap bercerai.

Sambil menahan perasaan yang tidak menentu, suami istri itupun menyampaikan rencana perceraian tersebut kepada orang tuanya. Orang tuanya pun menentang keras, sangat tidak setuju, tapi tampaknya keputusan Pak Andre sudah bulat. Dia tetap akan menceraikan Bu Rina.

Setelah berdebat cukup lama dan alot, akhirnya dengan berat hati kedua orang tua itu menyetujui perceraian tersebut dengan satu syarat, yaitu agar perceraian itu juga diselenggarakan dalam sebuah pesta yang sama besar seperti besarnya pesta saat mereka menikah dulu. Karena tak ingin mengecewakan kedua orang tuanya, maka persyaratan itu pun disetujui.

Beberapa hari kemudian, pesta diselenggarakan. Saya berani sumpah bahwa itu adalah sebuah pesta yang sangat tidak membahagiakan bagi siapapun yang hadir. Pak Andre nampak tertekan, stres dan terus menenggak minuman beralkohol sampai mabuk dan sempoyongan. Sementara Bu Rina tampak terus melamun dan sesekali mengusap air mata nelangsa di pipinya. Di sela mabuknya itu tiba-tiba Pak Andre berdiri tegap dan berkata lantang,

“Istriku, saat kamu pergi nanti… ambil saja dan bawalah serta semua barang berharga atau apapun itu yang kamu suka dan kamu sayangi selama ini..!”

Setelah berkata demikian, tak lama kemudian ia semakin mabuk dan akhirnya tak sadarkan diri.

Keesokan harinya, seusai pesta, Pak Andre terbangun dengan kepala yang masih berdenyut-denyut berat. Dia merasa asing dengan keadaan disekelilingnya, tak banyak yang dikenalnya kecuali satu. Rina istrinya, yang masih sangat ia cintai, sosok yang selama bertahun-tahun ini menemani hidupnya.

Maka, dia pun lalu bertanya,

“Ada dimakah aku..? Sepertinya ini bukan kamar kita..? Apakah aku masih mabuk dan bermimpi..? Tolong jelaskan…”

Bu Rina pun lalu menatap suaminya penuh cinta, dan dengan mata berkaca dia menjawab,

“Suamiku… ini dirumah peninggalan orang tuaku, dan mereka itu para tetangga. Kemaren kamu bilang di depan semua orang bahwa aku boleh membawa apa saja yang aku mau dan aku sayangi. Dan perlu kamu tahu, di dunia ini tidak ada satu barangpun yang berharga dan aku cintai dengan sepenuh hati kecuali kamu. Karena itulah kamu sekarang kubawa serta kemanapun aku pergi. Ingat, kamu sudah berjanji dalam pesta itu..!”

Dengan perasaan terkejut setelah tertegun sejenak dan sesaat tersadar, Pak Andre pun lalu bangun dan kemudian memeluk istrinya erat dan cukup lama sambil terdiam. Bu Rina pun hanya bisa pasrah tanpa mampu membalas pelukannya. Ia biarkan kedua tangannya tetap lemas, lurus sejajar dengan tubuh kurusnya.

“Maafkan aku istriku, aku sungguh bodoh dan tidak menyadari bahwa ternyata sebegitu dalamnya cintamu buat aku. Sehingga walau aku telah menyakitimu dan berniat menceraikanmu sekalipun, kamu masih tetap mau membawa serta diriku bersamamu dalam keadaan apapun…”

Kedua suami istri itupun akhirnya ikhlas berpelukan dan saling bertangisan melampiaskan penyesalannya masing-masing. Mereka akhirnya mengikat janji (lagi) berdua untuk tetap saling mencintai hingga ajal memisahkannya.

Tahukah kalian, apa yang dapat kita pelajari dari kisah di atas?
Kalau menurut Kang Sugeng sih begini, tujuan utama dari sebuah pernikahan itu bukan hanya untuk menghasilkan keturunan, meski diakui mendapatkan buah hati itu adalah dambaan setiap pasangan suami istri, tapi sebenarnya masih banyak hal-hal lain anyg juga perlu diselami dalam hidup berumah-tangga.
Untuk itu rasanya kita perlu menyegarkan kembali tujuan kita dalam menikah yaitu peneguhan janji sepasang suami istri untuk saling mencintai, saling menjaga baik dalam keadaan suka maupun duka. Melalui kesadaran tersebut, apapun kondisi rumah tangga yang kita jalani akan menemukan suatu solusi. Sebab proses menemukan solusi dengan berlandaskan kasih sayang ketika menghadapi sebuah masalah, sebenarnya merupakan salah satu kunci keharmonisan rumah tangga kita.

“Harta dalam rumah tangga itu bukanlah terletak dari banyaknya tumpukan materi yang dimiliki, namun dari rasa kasih sayang dan cinta pasangan suami istri yang terdapat dalam keluarga tersebut. Maka jagalah harta keluarga yang sangat berharga itu..

Dec 20

Kosong —- “Terus berlari tak terhenti untuk raih harapan”

Coba untuk ulangi apa yang terjadi
Harap ‘kan datang lagi
Semua yang pernah terlalui
Bersama alam menempuh malam
Walau tak pernah ada kesempatan
Terjebak dalam jerat mengikat
Namun tekad nyatakan bebas

Temukan diri di dalam dunia
Tak terkira…
Semua mati dan menghilang
Terlalu pagi temukan arti

Jalan panjang semakin lapang
Hanya dahan kering yang terpanggang
Tak ada teman telah terpencar
Namun waktu terus berputar
Peduli apa terjadi
Terus berlari tak terhenti
Untuk raih harapan
Di dalam tangis atau tawa

Temukan diri di dalam dunia tak terkira
Tak berarti tak akan pasti
Terlalu gelap…pergilah pulang

REBEL TO NOTHING

everlasting hopes never ending pain…

” — Nindy Selly

Dec 19

my hobby is to love the nature and make my move with great passion to feel it.. thank you for all of it ya Allah

my hobby is to love the nature and make my move with great passion to feel it.. thank you for all of it ya Allah

“CITRA BAIK sebuah karya anak Bangsa adalah Karya yang bermutu mendidik dan santun, meskipun seni sering menjadi jembatan dilema antara kreatifitas akan jiwa yang berkarya dan ekspose dari jiwa dengan emosi nafsu, namun seni sebenarnya adalah sebuah karya yang tidak hentinya menjadi pujian terhormat bagi bangsanya sendiri. Kualitas sebuah film bergantung kepada kreatifitas sosok sosok manusia dengan jiwa seni yang tinggi dan elegan. Perfilman Indonesia butuh karya karya yang mengedepankan budaya dan ciri khas citra bangsa Indonesia sendiri bukan malah merendahkan martabat bangsa dengan produksi murahan yang hanya merusak moral.” — Nindy Selly

Sang Penari film Terbaik Piala Citra FFI 2011


Sunday |11 December 2011 | 01:44

image

Jakarta, KasaKusuK.com

Film yang mengangkat nilai-nilai mempertahankan budaya bangsa, di dalam keterpurukkan bangsa dengan adanya yang disebut G30S PKI, membawa menjadi Film Terbaik Piala Citra FFI 2011, kisahnya sendiri tentang seorang gadis bernama Srintil (Prisia Nasution), yang sejak kecil suka menari diyakini memiliki indang atau roh ronggeng, kemudian oleh kakeknya, Sakarya (Landung Simatupang) gadis itu dibawa ke dukun ronggeng, Kertareja (Slamet Raharjo) agar “dipoles” menjadi ronggeng yang sesungguhnya.

Kehidupan Dukuh Paruk pun kembali bergairah setelah memiliki ronggeng yang baru, terlebih lagi pesona Srintil mampu membuat dirinya menjadi ronggeng yang terkenal. Namun ketenaran Srintil sebagai seorang ronggeng justru membuat tidak senang Rasus (Oka Antara) teman sepermainannya sejak kecil -yang ternyata mencintainya. Terlebih lagi seorang ronggeng tidak hanya dituntut mampu membawakan tarian namun juga melayani lelaki.

Rasus akhirnya memutuskan untuk meninggalkan Dukuh Paruk dengan  cintanya kepada Srintil dan kemudian masuk menjadi tentara. Sepeninggalan Rasus, ronggeng Dukuh Paruk semakin berkibar hingga kesenian tersebut akhirnya direkrut oleh sebuah partai untuk menarik massa dalam setiap aksi propagandanya. Angin ternyata berbalik, kegagalan Gerakan 30 September di Jakarta, akhirnya merembet hingga ke Dukuh Paruk yang harus menerima akibatnya karena “keterlibatannya” dalam tragedi tersebut.

Sang Penari digarap dengan apik oleh sang sutradara Ifa Isfansyah yang juga dinobatkan sebagai Sutradara Terbaik, sedangkan Prisia Nasution yang memerankan Srintil mendapat predikat sebagai Pemeran Utama Wanita Terbaik, sedangkan Dewi Irawan setelah menanti 28 tahun, akhirnya dinobatkan sebagai Pemeran Pendukung Wanita Terbaik.

Sang Penari di angkat dari novel Trilogi ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari ini hanya diserap inti sarinya, karena itu di akhir film tertulis “terinspirasi dari Novel Ronggeng Dukuh Paruk” dan seperti yang dikatakan oleh Ifa Isfansyah sendiri, bahwa Ifa tidak sedang memfilmkan sebuah novel tapi hanya mengambil inspirasinya saja. Sang Penari merupakan Potret Buram pasca tragedi tahun 1965.

Ifa Isfansyah setidaknya dengan menyabet sebagai Sutradara Terbaik dan Film Terbaik, telah berhasil membungkam para pengkritiknya yang mengatakan bahwa film Sang Penari melenceng dari novel, tapi untuk Ifa yang terpenting tiga gabungan produksi antara Salto film, Kompas Gramedia Production, dan Indika Pictures tetap percaya Ifa Isfansyah akan membuat film terbaik. Dan itu terbukti. (sakti)

imageimageimageimageimage

Sang Penari film Terbaik Piala Citra FFI 2011Sang Penari film Terbaik Piala Citra FFI 2011Sang Penari film Terbaik Piala Citra FFI 2011Sang Penari film Terbaik Piala Citra FFI 2011Sang Penari film Terbaik Piala Citra FFI 2011Sang Penari film Terbaik Piala Citra FFI 2011Sang Penari film Terbaik Piala Citra FFI 2011Sang Penari film Terbaik Piala Citra FFI 2011Sang Penari film Terbaik Piala Citra FFI 2011

Pahala Terindah, Romantisme di Ujung Senja.

Friday |9 December 2011 | 02:22

image

Jakarta, KasaKusuK.com

Ditayangkannya Sinema Wajah Indonesia berjudul “Pahala Terindah” yang dibintangi aktor kawakan Slamet Rahardjo Djarot dan aktris yang sudah malang melintang dalam dunia teater, layar lebar, dan televisi Ratna Riantiarno, serta Tika Bravani seperti sebuah nyanyian segar, membuat penonton televisi terpukau dengan permainan karakter tokoh, gambar-gambar yang indah, biarpun sepanjang film hanya diperankan oleh 3 tokoh sentral.

Kekuatan cerita dan karakter benar-benar sangat menghanyutkan, dan memang sinema wajah Indonesia sangat jauh berbeda dengan sinetron-sinetron kejar tayang, juga FTV yang sebenarnya tidak jauh berbeda dengan sinetron kejar tayang, seperti yang dikatakan Pihak SCTV sendiri “Dengan Sinema Wajah Indonesia, kami ingin mendobrak gaya tayangan televisi selama ini dengan warna konten tayangan yang lebih meng-Indonesia. Warna baru ini terbukti bisa diterima dan disukai pemirsa, sekaligus menjadi trend setter baru.”

H. Deddy Mizwar yang biaa dipanggil Pak Haji yang bertindak sebagai penanggung jawab program sinema wajah Indonesia, sebenarnya menginginkan sebuah sinema, sinetron, atau pun FTV punya keseriusan dalam penggarapan, jadual shooting, peralatan yang memadai, dan cerita yang membumi untuk menghasilkan kisah drama televisi yang bisa menyentuh hati para penontonnya.

Pahala Terindah sendiri bercerita tentang H. Slamet (Slamet Rahardjo Djarot) dan istrinya Hj. Ningsih (Ratna Riantiarno) yang mengisi hari tuanya mengurus ladangnya, mulailah ada mimpi-mimpi karena tidak punya anak, tidak ada pewarisnya, tentang ingin membangun pondok, sampai pada mimpi Hj. Ningsih merelakan suaminya untuk nikah lagi, supaya punya anak, dan yang akan mendoakan mereka nantinya. Cerita bergulir tidak terasa, seakan H. Slamet menikah lagi dengan gadis bernama Seruni, punya anak, jadi rebutan. Akhirnya ditutup dengan untuk bertindak adil itu tidak mudah, biarpun untuk Hj. Ningsih dengan membiarkan suaminya menikah merupakan Pahala Terindah.

H. Slamet akhirnya tersadar ketika mendengar bunyi serine ambuland, karena ada warga kampungnya yang meninggal diperkosa di Arab Saudi, mimpi membangun pondokpun dibatalkan, karena alangkah bahagianya bila bisa menahan warga kampung untuk pergi jadi TKW ke Hong Kong, Taiwan, atau Arab Saudi, bila seorang yang berlebih bisa memberikan lapangan kerja untuk setiap warga di Indonesia.

Mulailah pangsangan senja yang masih romantis itu mewujudkan untuk kampungnya dengan memberikan dana untuk para warga membuka usaha, dan Seruni yang pernah diimpikan untuk menjadi istri dari H. Slamet, diangkat anak dan disekolahkan oleh H. Slamet dan Hj. Ningsih. 

Pasangan senja yang masih tetap romantis menatap matahari di ujung senja, menatap bahagia kampung halamannya yang nan indah. (sakti)

imageimageimageimageimageimageimageimageimageimage

Pahala Terindah, Romantisme di Ujung Senja.Pahala Terindah, Romantisme di Ujung Senja.Pahala Terindah, Romantisme di Ujung Senja.Pahala Terindah, Romantisme di Ujung Senja.Pahala Terindah, Romantisme di Ujung Senja.Pahala Terindah, Romantisme di Ujung Senja.Pahala Terindah, Romantisme di Ujung Senja.Pahala Terindah, Romantisme di Ujung Senja.Pahala Terindah, Romantisme di Ujung Senja.Pahala Terindah, Romantisme di Ujung Senja.

RUMAH TANPA JENDELA:

Menghantarkan EMIR MAHIRA (Bocah 12 Tahun) Meraih Gelar Aktor Terbaik Piala Citra FFI 2011

imageAktor Cilik Emir Mahira semakin bersinar. Setelah tahun lalu dia berhasil masuk Nominasi Aktor Terbaik Piala Citra FFI 2010 lewat Film Garuda di Dadaku, Kini Emir Mahira berhasil memenangkan ajang penghargaan paling bergengsi di dunia per-filman Indonesia sebagai Aktor Terbaik FFI 2011 lewat film Rumah Tanpa Jendela.

Film ini menceritakan tentang persahabatan dua anak kecil Rara (Dwi Tasya) seorang anak pemulung miskin yang tinggal di sebuah rumah triplek yang tidak memiliki jendela dan Aldo (Emir Mahira) seorang anak orang kaya yang mengalami keterbelakangan mental.

Aktor Cilik yang baru berusia 12 tahun ini berhasil mengalahkan para aktor dewasa (Senior)sekelas Tio Pakusadewo, Alex Komang, Ferdi Tahier dan Oka Antara.

Tentunya ini menunjukkan betapa besar potensi yang dimiliki oleh Emir Mahira untuk turut memajukan Film Indonesia di masa yang akan datang.

Pemeran Bayu dalam Film Garuda di Dadaku baru baru ini juga berhasil memenangkan penghargaan International Isfahan International Film Festival, Iran sebagai Best Performance lewat Film Garuda di Dadaku.

Tio: Banyak Film Indonesia Kehilangan Arah

image

Tio Pakusadewo

BALI, KOMPAS.com — Indonesia boleh berbangga akan kemajuan perfilman di Tanah Air. Setidaknya, di tingkat ASEAN, perfilman Indonesia menunjukkan kualitas yang lebih baik. Begitu disampaikan aktor senior Tio Pakusadewo, ketika menghadiri perhelatan ASEAN Film Festival (AFF) di Bali, pekan ini.

“Kalau bicara mengenai ketertinggalan, seperti film Myanmar, film Indonesia tahun 1950 juga sudah (berkualitas) seperti itu. Jadi ternyata ada kok yang lebih tertinggal dibanding negara kita,” kata Tio saat berbincang dengan Kompas.com di The Patra Bali Resort and Villas, Kuta, Bali, Rabu (16/11/2011).

Dalam perkembangannya, perfilman Indonesia dewasa ini dianggap Tio hampir setara dengan film yang diproduksi negara maju. “Di negara kita, kalau bicara teknologi, apa sih yang enggak ada? Karena kalau orang bule main di sini, semua teknologi pasti dia sediakan, alat-alatnya juga ada. Jadi secara teknis kita itu enggak ketinggalan,” urai Tio.

Hanya saja perkembangan tersebut tak diikuti dengan kemajuan muatan film. “Secara konten kita kehilangan banyak arah, kita banyak kehilangan pijakan. Orang itu bikin cerita akarnya enggak kuat, coba lihat saja film sekarang, apalagi kalau kita lihat sinetron itu waduh…,” keluh Tio.

Mengenai usaha Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menjadikan film sebagai potensi ekonomi yang patut diperhitungkan, menurut Tio bukanlah hal yang mustahil. “Film memang bisa meningkatkan ekonomi kreatif asal filmnya berbobot. Tapi sekarang banyak enggak film kita yang berbobot? Kalau kita menerapkan itu (film berbobot), film asing pasti enggak akan ada apa-apanya. Tapi masalahnya kita sendiri sudah banyak kebobolan,” jelas Tio.

“Selama ini strategi kita salah, kalau pemerintahnya benar, marketingnya benar, kita sebenarnya bisa menekan film asing,” imbuhnya.

Untuk menuju peningkatan ekonomi kreatif, menurut Tio, perfilman Indonesia sudah sepatutnya memperkuat jaringan. “Kita harus punya link yang bagus. Seperti film The Raid (Serbuan Maut), itukan film gebuk-gebukan, tapi laku. Ini karena sutradaranya punya link yang bagus di Amerika sana. Mau sebagus apa pun filmnya kalau link-nya kurang bagus itu akan susah laku,” katanya.

“Film tidak selalu berpesan moral, yang berpesan moral adalah dongeng, film itu membebaskan pikiran”